Blog of Poetic Adventurer : Words on various topics :Catatan Sang Petualang

“Goresan kata-kata yang tersaji dari perantauan.”

Soeharto, Iklan dan PKS

Nov 18, 10:05 AM in Politik

Menjelang Hari Pahlawan minggu lalu, PKS menayangkan iklan yang dimuat di berbagai media televisi. Iklan berdurasi sekitar 15 detik tersebut, seperti iklan politik lainnya, jelas penuh jargon-jargon politik, yang menurut pandangan saya, sudah “agak” basi.

Yang lebih menarik, Soeharto ternyata membintangi salah satu iklan tersebut, dengan label yang sungguh memikat : Pahlawan sekaligus Guru Bangsa.

Apakah PKS berubah menjadi Partai Keadilan Soeharto?

Positioning Soeharto

Saya tidak ingin berdebat mengenai apakah Soeharto layak diberi predikat Pahlawan atau Guru Bangsa. Perdebatan ini analog dengan perdebatan dan kontroversi rakyat Rusia : apakah menetapkan Stalin sebagai Pahlawan dan Tokoh Besar, atau tidak ? (_catatan : Nama kota Stalingrad yang diberinama sesuai dengan nama Stalin, akhirnya dikembalikan ke asalnya : St. Petersburg_)

Saya tertarik untuk melihat positioning PKS dalam memandang Soeharto, dan dalam manuver politik. Sebuah partai kecil dengan 7% suara, mencoba untuk meraih simpati dari sisa-sisa pendukung Soeharto. Positioning, yang menurut saya, sangat salah kaprah jika PKS benar-benar mengklaim diri sebagai Partai Reformis.

Memberi Maaf ?

Sekjen PKS, Anis Matta, menyebut bahwa kita harus bisa meninggalkan masa lalu untuk menatap masa depan. Dus, memberi maaf kepada Soeharto dan melupakan segala kesalahannya adalah tindakan mulia. “Setiap manusia tidak lepas dari kesalahan”, demikian tambahnya.

Pendapat itu tentu benar. Hanya saja, mengukur dari tingkat manuver politik, tentu harus dibedakan mana kesalahan yang patut diberi maaf, yang harus dilupakan, dan mana kesalahan yang harus diambil sebagai hikmah.

Mungkin Anis Matta lupa dengan Peristiwa Tanjung Priok, yang membuat 300 orang, Muslim, kehilangan nyawa? atau Peristiwa “Haur Koneng” di Kuningan ? Atau mungkin dia sudah kehilangan data mengenai jumlah korban 1966 (dimana sejuta orang lebih kehilangan nyawa, ditahan tanpa pengadilan, dan menanggung derita sampai dengan beberapa generasi dengan stempel Eks-Tapol?

Tentu sangat tidak layak menyandingkan Soeharto dengan KH Hasyim Asyari, atau KH Ahmad Dahlan. Lebih tidak layak lagi menyandingkan dengan Jenderal Soedirman atau proklamator negeri ini, Soekarno.

Saya memandang, sebagai sebuah manuver politik, manuver politik PKS ini sangat kebablasan. Berusaha meraih ceruk simpati dari sisa-sisa Soehartois di jaman ini adalah taruhan yang terlalu besar bagi Partai yang mengklaim diri sebagai partai Muslim dan moderat. Masih banyak tokoh Islam yang bisa dijadikan ikon oleh PKS : Natsir, Nurcholis Madjid dan lain-lain sebagai Guru Bangsa.

Jika PKS masih menganggap Soeharto sebagai Pahlawan dan Guru Bangsa, saya usul untuk merubah singkatan PKS tidak saja menjadi Partai Keadilan Soeharto, tapi Partai Kroni Soeharto.

Salam,

commenting closed for this article

Bung Tomo, Setelah 63 Tahun Itu