Soe Hok Gie : Beberapa Sketsa Pemikiran (Bagian I)
Bagi anda yang telah membaca tulisan saya sekelumit tentang Soe Hok Gie, maka tulisan ini lebih serius untuk mengungkap sisi-sisi pemikiran dari Soe Hok Gie, satu contoh dari apa yang disebut sebagai intelllectual abortus,–orang-orang yang terlalu cepat mati muda sebelum sempat melakukan kerja besar dari pemikiran-pemikirannya.
Soe Hok Gie, sebagaimana intellectual abortus yang lain (Ahmad Wahib, Ada Augusta di Inggris, atau …) tidak sempat meninggalkan sebuah karya yang berisi kompilasi pemikirannya, hanya beberapa catatan2 tentang kehidupannya : “Buku Harian Seorang Demonstran”, an “Orang-Orang di Persimpangan Kiri Jalan”, sebuah skripsi untuk menyelesaikan studi sejarahnya di FSUI. Buku kedua, walaupun masih agak prematur, sedikit banyak bisa kita ambil sebagai pijakan untuk meletakkan posisi pemikiran Soe Hok Gie, paling tidak secara ideologis.
Sosialisme
Soe Hok Gie jelas adalah seorang sosialis tulen. Sebagai aktivis dari GM Sos (Gerakan Mahasiswa Sosialis), dia akrab dengan tulisan-tulisan dan pemikir-pemikir sosialis seperti Jean Jaures, Rosa Luxemburg, Gramsci, Sjahrir dan lain-lain. Dia selalu berharap agar setiap asset yang dimiliki negara digunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat (Pasal 33 UUD ‘45), tapi tanpa melakukan peniadaan kelas yang agresif dan agitatif layaknya aksi kaum Marxis-Leninis.
Sekuler
Pemikiran-pemikiran Gie, jelas berusaha memisahkan antara Agama dan Negara. Jika dia masih hidup sekarang ini, mungkin Gie sudah masuk dalam TO (target operasi)-nya FPI Rizieq Shihab.
Mari kita lihat dalam kerangka bagaimana Gie merumuskan sekularisme-nya.
Beberapa tulisannya dalam “Zaman Persimpangan” (Gie berkesempatan mengunjungi Amerika dan Australia), dia melihat langsung fenomena kaum hippies, anti-establishment dan semacamnya pada waktu itu. Saat itu, issue agama menjadi tidak menarik sama sekali bagi Gie, dan paham sekularian jauh lebih menarik dan sexy bagi orang-orang muda seperti Gie.
Dalam kaitan ini pula kita bisa memahami thesis Nurcholish Madjid di awal 70-an : Islam Yes, Partai Islam No. Ketika label-label agama dilekatkan pada sebuah organ non agama (partai, institusi dan lain-lain) maka dia menjadi kehilangan makna tematis dan historisnya. Bahkan dalam beberapa kasus, hal ini menjadi beban bagi organ yang dilekatkan dengan label agama, untuk selalu bertindak sesuai dengan ‘rules‘ yang terdapat dalam kitab suci.
Evolusi Budaya
Gie percaya, bahwa budaya (dan dalam range tertentu ini juga menyangkut agama, yang dalam kajian sejarah dipandang sebagai sebuah bentuk kebudayaan manusia) bersifat evolutif; selalu bergerak dan berubah sesuai dengan tuntutan jaman. Dalam hal ini, Gie percaya adanya sebuah ‘mixed-for-good‘, adagium bahwa pergesekan antar budaya akan menghasilkan sebuah kebudayaan baru yang lebih baik dari kebudayaan sebelumnya. Karena itu, dalam tataran implementasinya, Gie mendukung kebijakan kawin-campur bagi etnis Tinghoa waktu itu (dan etnis-etnis lainnya juga) agar sebuah nation-state bernama Indonesia ini menjadi sebuah entitas yang plural dan inklusif.
Saya akan membahas lebih lanjut di bagian selanjutnya untuk membedah secara kritis pandangan-pandangan Soe Hok Gie dalam lapangan ideologis dan budaya.
Salam dari Sanur,
Mas Jabier

commenting closed for this article