Playboy van Indonesie

Anda sulit mencari majalah Playboy ? Kalau perlu blusukan dulu –mungkin di jalan-jalan daerah Bronx New York sana–, sambil toleh kiri kanan ? Dan si penjual cuman senyum-senyum liat face kita yang Asia banget, dan kalau dia agak curious dia paling bilang “Got any ID, Sir..?? “.
Kalau enggak, ke Singapur, jalan ke Orchad road sana. Atau ya nitip teman yang di Amrik dan beli online di www.playboy.com.
Nah, beberapa waktu lagi, kita beli Playboy di toko pinggir jalan di Indonesia. Luar biasa kan ??
Saya tidak akan bicara polemik mengenai masalah Playboy disini, baik dari sisi teologi maupun fiqh (tafsir-hadits-ushul-dst), maupun sosial budaya. Anda tentu sudah mengerti peta dan pendapat dari kedua sisi tsb, dan itu tidak usah diperdebatkan lagi. Secara fiqh sudah final, jangankan melihat aurat ataupun ’separo’ aurat, memandang muka bukan muhrim dengan syahwat saja sudah masuk kategori haram. Jika anda kaum Adam (normal seperti saya, –maaf buat yang tidak normal) ada yang yakin ketika melihat lekuk tubuh Luna Maya atau Sarah Azhari di Popular — tanpa melibatkan syahwat ? Gak mungkin la yaww.
Dari sisi sosial dan atas nama kebebasan berekspresi pun sudah jelas. Saya tidak akan bicara itu. Saya akan bicara dari sisi sejarah.
Hugh Heffner, sang kreator Playboy –edisi pertamanya keluar di tahun 1953–, adalah seorang pria yang bisa melihat peluang bisnis atas sesuatu yang sudah berjalan ribuan tahun di bumi ini : sebuah pelarian seksual. Oasis. Dengan memuat gambar-gambar syur di majalah tersebut , langsung memantapkan brand image-nya sebagai majalah pria yang paling ‘most wanted’. Tulisan-tulisan di Playboy sendiri, merupakan tulisan-tulisan yang bagus (tidak melulu seks, ada cerpen, report, features, etc), dan bahkan beberapa writer terkenal Amerika pun pernah menulis di Playboy seperti Alex Haley dan Alvin Toffler. Ha ?Alvin Toffler yang nulis “Third Wave” itu ? Ya, iya lah. Do we have another Toffler ?
Heffner hanya memanfaatkan instink purba para pria (yang normal, tentu saja), dan kemudian membungkusnya dengan kemasan yang bagus dan taktik marketing yang oke. Kita masih ingat statemen Sigmund Freud yang terkenal : “libido seksual adalah faktor utama penggerak hidup ini“. Silakan sepakat dan tidak sepakat.
Playboy hanya memanfaatkan sesuatu yang memang sudah ada, dan berjalan ribuan tahun di bumi ini. Anda tahu apa profesi tertua di dunia ini (at least, kalau sempat mendengar, tentu tahu maksud saya ) ? Semuanya berujung pada sebuah kata : seks. Salah satu tafsir kitab suci yang pernah saya baca pun mengatakan bahwa ‘pengetahuan‘ (atau dalam istilah lain “pohon Khuldi” yang dimakan oleh Hawa) yang dilanggar Adam ketika di Surga adalah ‘pengetahuan regeneratif‘ (metode untuk melestarikan spesies), dan dalam kasus manusia itu hanya kembali pada satu kata : seks.
Needles to say, Playboy hanya memanfaat wacana sejarah yang sudah ada.
Jadi Playboy van Indonesie ? Kalau anda punya uang dan suka dengan cover edisi pertama ini, ya silakan beli saja.
Salam dari Sanur,

commenting closed for this article
Surat Terbuka untuk Rektor ITS Soe Hok Gie : Beberapa Sketsa Pemikiran (Bagian II)