Blog of Poetic Adventurer : Words on various topics :Catatan Sang Petualang

“Goresan kata-kata yang tersaji dari perantauan.”

Ketika Musim Haji Tiba

Oct 30, 03:21 PM in Agama

Seorang tukang sepatu yang lugu dan sederhana menabung sedikit demi sedikit dari hasl jerih payahnya untuk melaksanakan ibadah haji. Tanpa dinyana, ketika tabungannya cukup dan siap berangkat, datanglah seorang janda dan lima anaknya yang kelaparan di halaman rumahnya.

Tanpa berpikir panjang, dia lalu menyerahkan semua tabungannya untuk menyantuni janda tersebut. “Biarlah sedekahku ini menjadi ibadah hajiku ”, ujar orang tersebut.

Malam hari dia bermimpi, Allah mengangkatnya ke langit dan didudukkan di samping Arsy-Nya yang Agung. Kemudian Allah menampakkannya suasana orang berthawaf di Mekkah. “Berapa orang yang hajinya diterima dan tercatat sebagai haji mabrur?” titah Allah kepada Malaikat.

“Tidak ada, ya Allah. Kecuali orang yang Engkau angkat disisi-Mu itu. Sungguh Engkau lebih mengetahui, ya Allah”

Cerita ini memberikan hikmah bagi kita tentang haji sebagai kesalehan sosial. Lalu bagaimana trend haji sekarang ini?

Haji Sebagai Ibadah Pamungkas

Umat Islam menghafal luar kepala urutan-urutan lengkap Rukun Islam, dan tentu ada maksud dan hikmah tertentu penempatan haji dalam urutan terakhir atau pamungkas. Saya memaknai bahwa ibadah haji ditempatkan di urutan terakhir tidak saja dalam perspektif al-Fiqh (hukum Islam), tapi juga perspektif Maqasid as-Syariah (maksud-maksud diterapkannya suatu hukum) yang lebih menekankan perspektif sosial dan kemasyarakatan.

Ibadah haji ditetapkan pada urutan terakhir ,setelah syahadat, shalat, zakat dan puasa, bermakna bahwa orang yang melakukannya (atau akan melakukkannya), diharapkan telah paripurna dalam rukun-rukun diatasnya. Syahadat dan shalatnya sudah baik, puasanya bagus, dan zakatnya ditunaikan dengan sunggun-sungguh. Perspektif zakat yang menunjukkan kekuatan finansial orang tersebut, juga melekat pada ibadah haji : yang juga disyaratkan bagi yang mampu.

Apakah mampu secara finansial juga bisa berarti mampu secara mental? Jelas berbeda. Ketika haji kemudian menjadi pengukuhan kelas tertentu dalam masyarakat (dengan menyebut tambahan haji di depan namanya), hal ini kemudian bergeser. Maka di Indonesia ini, koruptor dan pencuri uang rakyat pun bergelar haji. Dus, haji tidak menjadi cermin dari perilaku.

Haji Sebagai Kelas Dalam Masyarakat

Tidak ada pencantuman gelar al-hajj (haji) bagi orang Arab yang sudah berhaji di beberapa negara Arab , kecuali pada nama seorang ulama atau pemegang otoritas keagamaan, dan itupun sangat jarang terjadi. Berbeda dengan Indonesia, yang dengan bangga menyematkan titel H (Haji) di depan namanya dan dibawa-bawa sampai panggung politik.

Teori kelas menyatakan bahwa harus ada pembeda antar kelas untuk menunjukkak keunggulan kelas : kaya terhadap miskin, intelek terhadap orang bodoh, penjajah dan terjajah, bangsawan dan rakyat jelata, dst. Untuk itu, diciptakan sebuah pembeda : titel, sebutan dst. Haji masuk pada ranah titel ini. Karena itu, tidak jarang orang berhutang untuk naik haji, jual sawah, jual tanah, asset dsb hanya untuk menambah titel haji di depan namanya. Dan kemudian pulang dari haji menjadi miskin dan tidak berdaya.

Pandangan inilah yang perlu diluruskan dalam masyarakat Indonesia.

Saya cenderung berpendapat bahwa haji dilakukan ketika orang telah memenuhi dua kondisi : kondisi finansial dan kondisi mental. Kondisi finansial menunjukkan tingkat ekonomi yang telah wajar untuk melakukannya, misalnya dalam bentuk sudah cukup secara sandang, pangan, papan, dan telah memiliki tabungan. Kondisi mental adalah kondisi psikologis spiritual orang tersebut yang telah siap menjadi tamu Allah.

Jangan kemudian pulang haji, semakin rajin “ibadah” di diskotik atau malah berjudi.

Di atas semua, seperti kisah di awal tulisan ini, bagi saya, kesalehan sosial jauh lebih bernilai ketimbang kesalehan personal.

Bukankah ironis, negeri dengan jumlah jemaah haji terbanyak di dunia ini, masih memiliki fakir miskin dan anak terlantar di jalanan?

Salam,

  1. Bismillah.
    Informasi yang bermanfaat seputar haji, umrah, oleh-oleh haji, haji gifts, dll,
    bisa juga didapatkan di http://hajiwebid.wordpress.com atau http://www.haji.web.id (insya Allah segera online).
    Semoga amalan ibadah kita diterima Allah Ta’ala dan semoga ibadah haji tahun ini aman, lancar, menjadi haji mabrur. Amin.


    www.haji.web.id    Dec 1, 04:03 PM    #

commenting closed for this article

Dzunnun Syekh Puji - Minus Pujian