Dzunnun

Dalam samudra ekstasenya, Dzunnun berujar “Petiklah bunga mawar dari huruf-huruf M.A.W.A.R. Jika engkau bisa melakukannya, maka sungguh engkau telah mengalami pencerahan.”
Belasan tahun lalu saya membaca petikan ucapan mistikus besar ini, dan sampai hari ini saya masih belum puas atas pengertian yang saya dapat. Al-Mishry (Mesir) yang dinisbahkan pada namanya, tergambar di benak kita bumi dengan gurun pasir dan panasnya cuaca. Lalu dimana kita bisa memetik bunga mawar?
Satu Huruf untuk Semesta Alam
Dzunnun tentu memiliki maksud dalam ucapannya. Analogi huruf dalam kata “MAWAR” bisa dimaknai sebagai mengisi semesta pikiran kita dengan penampakan bunga mawar yang merah merekah, segar, dan ketika pikiran bawah sadar kita sudah terisi dengan bunga mawar tersebut, maka alam sadar pun akan “mengiyakan” dan menganggap benar ada sekuntum bunga mawar di telapak tangan kita.
Dalam tradisi-tradisi sufi yang penuh dengan dzikr (Dzikr sendiri bermakna “mengingat”), tahapan proses awal dimulai dengan menyebut nama sang Kekasih. Berangsur-angsur ketika semesta nama sudah menerobos pagar bathin, nama dan sebutan tidak lagi menjadi berarti. Pada titik ini, musnahlah semua ego diri, yang diucapkan dalam metafora Dzunnun sebagai “memetik bunga mawar”.
Rahasia Tidak Memiliki Nama
Kaum sufi mengenal istilah As-Sirru ‘Ala as-Sirr. Rahasia diatas Rahasia. Ada satu Nama yang dirahasiakan-Nya, dan hanya diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang terpilih. Dalam ucapan Dzunnun diatas, beliau seolah berkata “Kau temukan dulu makna dalam huruf, dan ketika engkau bisa mendapatkan makna tanpa huruf (baca : perantara apapun), maka ketika itulah kau mendapatkan pencerahan.”
Kita belajar banyak dari Dzunnun Al-Mishri.
Bukankah tidak saja huruf, tapi setiap hela nafas yang kita hirup, setiap detik waktu yang kita jalani, setiap atom yang bergerak dalam tubuh kita, dan seluruh semesta alam, senantiasa memuji dan menyebutkan Nama-Nya?
Salam,

commenting closed for this article
Aku setuju dengan pendapat ini.
— 1jalan Oct 31, 03:33 PM #