Bang Ali, Selamat Jalan!
Tidak ada orang Jakarta yang tidak mengenal Ali Sadikin, apalagi mereka yang masuk dalam generasi akhir 60-an. Tidak ada gubernur DKI yang lebih terkenal, dihormati dicintai sekaligus penuh dengan kontroversi seperti beliau.
Garang, tegas, dan lurus tanpa ampun. Jakarta yang carut marut di tahun 1966 setelah digempur dengan berbagai aksi dan demonstrasi mahasiswa, berhasil dibenahi dan ditata oleh Ali Sadikin. Jika anda mengenal Ancol, maka itulah salah satu kontribusi Bang Ali, disamping TIM (Taman Ismail Marzuki), dan tentu berbagai hal lain yang tidak cukup untuk disebutkan disini.
Almarhum Ibu saya sering bercerita mengenai sepak terjang beliau, dan salah satu yang saya sukai adalah bagaimana ketika beliau menjawab mengenai kebijakannya mengatur dan “melokalisasi” berbagai kasino di kota Jakarta. Kasino Copacabana, Pasar Baru dan lain-lain diatur dan dilokalisasi di suatu tempat, dan ditarik pajak sangat tinggi. Dus, hanya orang-orang kaya dan berduit saja yang bisa kesana.
Bang Ali (dalam cerita Ibu saya), menjelaskan bahwa ketimbang tempat-tempat judi itu berkeliaran tanpa kontrol, lebih baik dikontrol dan diatur, dan diberikan pajak sangat tinggi. “Kalau orang-orang kaya itu mau ngabisin uang, biarkan saja, ..uangnya banyak. Kalau orang miskin, nah itu lain perkara.” Beberapa kalangan ulama tentu saja tidak sependapat. “Boleh saja Pak Kyai tidak setuju, tapi kalau jalan di jalanan DKI, hukumnya haram, karena jalanan itu salah satunya dibangun dengan duit dari pajak kasino. Jadi naik helikopter saja!”
Cerita mengenai ke”garangan” (baca: ketegasan beliau) sudah menjadi rahasia umum. Serpihan kata-kata “Goblok” pasti mampir di kuping bawahan2-nya yang dianggap tidak becus mengurus pemerintahan. Cerita mengenai Bang Ali yang menampar seorang pengemudi karena menyerobot jalan sangat terkenal. Dan kisah penolakannya terhadap permintaan Soekarno, menjadi salah satu ikon ketegasannya.
Begitulah kurang lebih penjelasan Bang Ali. Itu cerita ketika saya kecil dan remaja di era 80-an.
Sepuluh tahun berikutnya, saya lebih mengenal Bang Ali sebagai tokoh Petisi 50, sekelompok orang yang berani mengatakan “Tidak” kepada rezim Soeharto. Perilaku dan sikap yang hanya bisa ditemui di segelintir orang di jaman Soeharto.
Bang Ali, Selamat Jalan! Tuhan tahu engkau bukan manusia sempurna dan tidak luput dari kekhilafan, ..tapi Dia juga mengingat kecintaan-mu kepada negerimu Indonesia, yang saat ini carut marut.
Keringat, pikiran dan darah yang telah engkau sumbangkan dalam membela negeri ini, akan selalu dicatat dalam tinta emas sejarah.
Old soldier never dies, they just fade away.
Related News :
Ali Sadikin Meninggal Dunia
Ali Sadikin : “Demi Judi, Saya Rela Masuk Neraka!”

commenting closed for this article